Denpasar – Festival Anggrek Bali 2025 resmi berakhir pada 7 November 2025 setelah berlangsung meriah selama sepekan di Taman Budaya Art Centre Denpasar. Kegiatan yang digelar oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali ini menjadi ajang yang sangat dinantikan oleh masyarakat pecinta tanaman hias, akademisi, dan pelaku usaha florikultura dari seluruh Indonesia. Dengan mengusung tema “Anggrek Kembali: Unity in Diversity”, festival ini menghadirkan semangat kebersamaan dalam memperkenalkan keindahan serta kekayaan anggrek Nusantara, khususnya anggrek endemik Bali yang menjadi kebanggaan daerah.


Tahun ini, festival diisi oleh 36 stand anggrek dari berbagai provinsi di Indonesia. Setiap stand menampilkan keunggulan anggrek khas daerahnya, mulai dari jenis alam hingga hasil budidaya unggulan. Keindahan warna, bentuk, dan aroma khas bunga anggrek berhasil memikat ribuan pengunjung yang datang sejak hari pertama pembukaan hingga penutupan. Selain menjadi ajang pameran, kegiatan ini juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara budidaya dan pelestarian anggrek secara berkelanjutan. Menambah kemeriahan, panitia menyiapkan doorprize setiap hari berupa tanaman anggrek dan merchandise bermotif anggrek. Program ini mendapat sambutan antusias dari masyarakat dan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang hadir ke Taman Budaya Art Centre.

Sebagai bagian dari kegiatan edukatif, festival ini juga menggelar seminar nasional bertajuk “Harmoni Anggrek Bali: Konservasi ke Bisnis yang Berkelanjutan.”
Seminar menghadirkan dua narasumber utama yaitu, Dr. I Putu Sudiarta, S.P., M.Si., Ph.D., Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana dan Ramadani Yudha Prasetya, perwakilan dari Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI).
Dalam paparannya, Dr. I Putu Sudiarta menekankan pentingnya keseimbangan antara upaya konservasi dan pengembangan ekonomi. “Konservasi bukan berarti menghentikan pemanfaatan, tetapi mengelola dengan bijak agar keberlanjutan ekosistem tetap terjaga. Anggrek memiliki potensi ekonomi yang besar, namun harus dikembangkan dengan pendekatan ilmiah dan ramah lingkungan,” ungkapnya.
Sementara itu, Ramadani Yudha Prasetya dari PAI menyoroti pentingnya sinergi antara komunitas dan pelaku usaha florikultura. “Potensi pasar anggrek Indonesia sangat besar, baik di dalam negeri maupun ekspor. Dengan kolaborasi antara petani, akademisi, dan pemerintah, kita bisa menjadikan anggrek bukan hanya kebanggaan estetika, tetapi juga sumber penghidupan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Seminar ini diikuti oleh mahasiswa, akademisi, pelaku usaha florikultura, dan masyarakat umum yang antusias menggali pengetahuan tentang peluang bisnis sekaligus pentingnya menjaga kelestarian anggrek lokal. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pihak yang terlibat dalam suksesnya penyelenggaraan festival tahun ini. “Anggrek merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi. Festival ini tidak hanya menampilkan keindahan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat ekosistem usaha florikultura di Bali melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan petani,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pihaknya berharap generasi muda semakin tertarik untuk mengembangkan tanaman hias, sehingga Bali dapat menjadi pusat pengembangan anggrek unggulan di tingkat nasional bahkan internasional.
Festival Anggrek Bali 2025 telah menorehkan kesan mendalam bagi masyarakat. Lebih dari sekadar pameran bunga, kegiatan ini menjadi ruang inspiratif yang mempertemukan konservasi, kreativitas, dan peluang ekonomi hijau dalam satu harmoni. Semangat “Anggrek Kembali” diharapkan terus tumbuh, tidak hanya di taman dan rumah, tetapi juga dalam pola pikir masyarakat Bali yang ingin menjaga alam sekaligus menumbuhkan kesejahteraan melalui pesona anggrek nusantara.

