Denpasar – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali kembali menunjukkan kinerja positif dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Berdasarkan rilis Indeks Ketahanan Pangan (IKP) tahun 2025 oleh Badan Pangan Nasional, Provinsi Bali berhasil menempati peringkat ketiga secara nasional dengan skor 79,88, atau berada di atas rata-rata nasional sebesar 73,00.
Capaian ini mencerminkan bahwa ketahanan pangan Bali tetap terjaga dengan baik, ditinjau dari aspek ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan. Meskipun demikian, Distanpangan Bali tetap mencermati adanya dinamika pergeseran peringkat dibandingkan tahun sebelumnya sebagai bagian dari evaluasi berkelanjutan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif antara pemerintah, petani, serta seluruh pemangku kepentingan di sektor pangan.
“Ketahanan pangan Bali masih berada dalam kondisi baik. Ini merupakan hasil sinergi berbagai pihak dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan. Namun, kami tidak berpuas diri dan terus melakukan penguatan strategi untuk menghadapi berbagai tantangan ke depan,” ujarnya.
Dalam menjaga dan memperkuat ketahanan pangan, Distanpangan Bali terus mengoptimalkan berbagai langkah strategis, antara lain melalui penguatan produksi pangan lokal, diversifikasi konsumsi berbasis sumber daya lokal, stabilisasi pasokan dan harga pangan, serta penguatan cadangan pangan pemerintah.
Pendekatan berbasis kearifan lokal juga tetap menjadi fondasi utama, salah satunya melalui keberlanjutan sistem subak yang telah terbukti mampu menjaga keseimbangan ekosistem pertanian di Bali.
Pada tingkat kabupaten/kota di Provinsi Bali, sejumlah wilayah menunjukkan capaian yang menggembirakan. Kabupaten Badung dan Kota Denpasar tercatat sebagai daerah dengan tingkat ketahanan pangan tinggi, didukung oleh infrastruktur dan akses pasar yang baik. Sementara itu, Kabupaten Tabanan, Jembrana dan Gianyar tetap berperan sebagai sentra produksi pangan utama di Bali.
Di sisi lain, beberapa tantangan masih dihadapi dalam pelaksanaan program ketahanan pangan, di antaranya alih fungsi lahan pertanian, ketergantungan pasokan dari luar daerah, dampak perubahan iklim, serta masih terbatasnya regenerasi petani.
Menjawab tantangan tersebut, Distanpangan Bali telah menyiapkan berbagai langkah ke depan, meliputi pengembangan pertanian modern berbasis teknologi, perlindungan lahan pertanian berkelanjutan, penguatan sistem cadangan pangan, serta pengembangan agroindustri dan hilirisasi produk pertanian.
Lebih lanjut, I Wayan Sunada menegaskan bahwa keberhasilan ketahanan pangan tidak terlepas dari peran petani sebagai garda terdepan sektor pertanian.
“Kami berharap program ketahanan pangan ini tidak hanya menjamin ketersediaan pangan, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Kami mengajak seluruh petani Bali untuk terus berinovasi, memanfaatkan teknologi, serta menjaga kearifan lokal sebagai kekuatan utama pertanian Bali,” tegasnya.
Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah, petani, dan seluruh pemangku kepentingan, ketahanan pangan Bali akan semakin kokoh dan berkelanjutan di masa mendatang.