Denpasar — Keberadaan penyuluh swadaya dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan sektor pertanian di Provinsi Bali. Di tengah tantangan keterbatasan jumlah penyuluh pertanian lapangan (PPL) serta perubahan dinamika sektor pertanian, penyuluh swadaya hadir sebagai mitra pemerintah dalam mendampingi petani di tingkat lapangan.
Penyuluh swadaya merupakan pelaku utama pertanian yang berhasil dan secara sukarela berbagi pengalaman, pengetahuan, serta keterampilan kepada petani lainnya. Keberadaan penyuluh ini telah diakui dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan. Peran penyuluh swadaya dinilai mampu memperkuat sistem penyuluhan pertanian berbasis komunitas dan kearifan lokal.

Di Bali, peran penyuluh swadaya semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan pendampingan petani dalam penguatan kelembagaan kelompok tani, penerapan teknologi pertanian, hingga adaptasi terhadap perubahan iklim dan alih fungsi lahan pertanian. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, menyampaikan bahwa penyuluh swadaya memiliki kontribusi besar dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian Bali dan upaya mempertahankan ketahanan pangan di Bali. Menurutnya, penyuluh swadaya tidak hanya membantu proses transfer pengetahuan kepada petani, tetapi juga menjadi contoh nyata keberhasilan usaha tani di masyarakat. “Penyuluh swadaya adalah penggerak di lapangan yang lahir dari pengalaman langsung. Mereka memahami kondisi wilayah, budaya bertani masyarakat, serta mampu membangun komunikasi yang lebih dekat dengan petani,” ujarnya. Ditambahkan, sinergi antara penyuluh ASN bersama Kementerian Pertanian, penyuluh swadaya, akademisi, dan pelaku usaha menjadi salah satu kunci dalam memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus menjaga eksistensi pertanian Bali di tengah perkembangan sektor pariwisata dan pembangunan.
Pada kesempatan tersebut, Persatuan Penyuluh Pertanian Swadaya Indonesia (P3SI) Provinsi Bali yang sudah terbentuk dalam hal ini dihadiri oleh koordinator masing-masing Kabupaten/Kota di Provinsi Bali melakukan pertemuan bersama Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, kegiatan ini menjadi momentum memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dengan penyuluh pertanian swadaya dalam memperkuat ketahanan pangan khususnya di Provinsi Bali.

Ketua P3SI, I Ketut Kardana, menyampaikan harapan agar berbagai kegiatan penyuluh pertanian swadaya dapat memperoleh dukungan dan fasilitasi dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali. Menurutnya, penyuluh swadaya memiliki peran penting sebagai ujung tombak pendampingan petani di lapangan sehingga perlu mendapat perhatian bersama dalam penguatan kapasitas maupun kelembagaan.
Adapun beberapa harapan yang disampaikan P3SI antara lain melakukan pembaruan data penyuluh pertanian swadaya di seluruh Bali, mengakomodasi kegiatan penyuluh swadaya melalui dukungan program Distanpangan Bali, melaksanakan sarasehan atau temu penyuluh secara rutin setiap tahun sebagai wadah berbagi pengalaman dan inovasi, serta mengadakan lomba penyuluh pertanian swadaya guna meningkatkan motivasi dan mendorong lahirnya inovasi di bidang pertanian.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali menyambut baik berbagai masukan dan aspirasi yang disampaikan P3SI dan Distanpangan Bali terus mendorong penguatan sistem penyuluhan pertanian sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani di Bali.

Keberadaan penyuluh swadaya juga dinilai mampu mendorong regenerasi petani muda melalui pendekatan yang lebih adaptif dan berbasis praktik langsung di lapangan. Berbagai inovasi seperti pertanian organik, pemanfaatan alat dan mesin pertanian, hingga pengembangan produk olahan pangan lokal mulai diperkenalkan kepada generasi muda melalui pendampingan komunitas tani.
Selain itu, penyuluh swadaya turut berperan dalam memperkuat program pemerintah terkait swasembada pangan dan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan. Hal ini menjadi penting mengingat Bali menghadapi tantangan alih fungsi lahan pertanian yang cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Wayan Sunada berharap keberadaan penyuluh swadaya dapat terus diperkuat melalui pelatihan, peningkatan kapasitas, serta dukungan kolaborasi lintas sektor.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Pertanian membutuhkan gotong royong dan kolaborasi semua pihak. Penyuluh swadaya menjadi bagian penting dalam menjaga semangat petani agar tetap produktif, inovatif, dan mampu menjaga ketahanan pangan Bali,” tambahnya. Melalui audiensi ini diharapkan terjalin kolaborasi yang semakin kuat antara pemerintah daerah dan penyuluh pertanian swadaya dalam mendukung pembangunan pertanian Bali yang maju, mandiri, dan berkelanjutan.