Bangli – Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) melaksanakan kegiatan pembinaan kepada Kelompok Tani Budi Tunggal terkait pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada komoditas kopi di Desa Katung, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Kegiatan ini dirangkaikan dengan penyerahan bantuan bahan pengendalian berupa agens pengendali hayati untuk mendukung pengendalian OPT secara ramah lingkungan.
Pembinaan difokuskan pada strategi pengendalian OPT kopi secara terpadu, khususnya dalam menghadapi serangan penyakit tular tanah dan patogen penyebab busuk akar yang kerap menurunkan produktivitas kebun kopi rakyat di wilayah dataran tinggi Kintamani. Tim teknis BPTPH memberikan materi terkait identifikasi gejala serangan, teknik monitoring populasi OPT, serta penerapan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) berbasis agens hayati.


Dalam kesempatan tersebut, BPTPH menyerahkan bantuan bahan pengendalian berupa 240 liter metabolit sekunder Trichoderma dan 130 kilogram biakan sebar Trichoderma kepada Kelompok Tani Budi Tunggal. Bantuan ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menekan perkembangan patogen di lahan kopi anggota kelompok.
Metabolit sekunder Trichoderma berfungsi sebagai agen antagonis yang mampu menghambat pertumbuhan cendawan patogen melalui mekanisme antibiosis, kompetisi ruang dan nutrisi, serta induksi ketahanan tanaman. Sementara itu, biakan sebar Trichoderma diaplikasikan langsung ke media tanah di sekitar perakaran tanaman sebagai upaya preventif maupun kuratif dalam skala lapangan.


Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Distanpangan Bali, Putu Winaningsih dalam sambutannya menegaskan bahwa pendekatan pengendalian OPT berbasis agens hayati merupakan langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan perkebunan kopi rakyat. “Kami mendorong petani untuk beralih secara bertahap dari ketergantungan pada pestisida kimia menuju sistem pengendalian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Penggunaan Trichoderma bukan hanya menekan serangan penyakit, tetapi juga memperbaiki kesehatan tanah dalam jangka panjang,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kopi Kintamani memiliki nilai ekonomi dan reputasi geografis yang kuat, sehingga aspek perlindungan tanaman harus menjadi perhatian bersama. “Kualitas dan kontinuitas produksi sangat ditentukan oleh kemampuan petani dalam mengendalikan OPT secara tepat dan terpadu. Melalui pembinaan ini, kami ingin memastikan petani memiliki pengetahuan teknis dan akses terhadap sarana pengendalian yang memadai,” tegasnya.
Ketua Kelompok Tani Budi Tunggal menyampaikan apresiasi atas dukungan pembinaan dan bantuan yang diberikan. Menurutnya, pendampingan teknis serta ketersediaan agens hayati sangat membantu petani dalam mengatasi permasalahan OPT yang selama ini menjadi tantangan utama dalam budidaya kopi.
Melalui kegiatan ini, BPTPH berharap kapasitas petani dalam pengendalian OPT semakin meningkat, produktivitas kebun kopi tetap terjaga, serta keberlanjutan usaha tani kopi di Desa Katung dapat terus diperkuat.
