Oleh:
Ni Wajan Leestyawati
Penyuluh Pertanian Utama
Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali

Calving interval adalah jarak waktu antara satu kelahiran godel dengan kelahiran godel berikutnya. Atau dapat juga disebut jarak beranak. Satuannya dihitung dalam hari. Calving interval merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan populasi. Semakin pendek calving interval akan memberikan dampak positif pada peningkatan populasi anak setiap tahun.

Menurut Peter (1984) (dalam.Jamaliah dan Junaidi, https://bptu-hptindrapuri.com) Interval kelahiran yang normal pada sapi adalah 12 bulan atau 1 tahun. Demikian juga Hadisutanto (2008), menyatakan bahwa idealnya seekor sapi betina bisa melahirkan pedet setiap tahun. Selanjutnya, menurut Peters dan Lamming (1990) seekor sapi harus sudah menjadi bunting pada hari ke 80-85 setelah melahirkan sehingga kelahiran 365 hari dapat dicapai. Namun calving interval atau jarak beranak pada sapi yang baik adalah 12-14 bulan dari kelahiran sebelumnya.

Sapi bali mempunyai performans reproduktivitas yang tinggi, yang ditandai dengan aktivitas ovarium dan perkawinan kembali kurang dari 2 bulan sesudah melahirkan (Talib et al. 2001). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat efisiensi reproduksi sapi bali lebih baik dibandingkan dengan sapi peranakan ongole (PO).

Hasil penelitian beberapa Ahli menunjukkan bahwa calving interval pada sapi bali berbeda-beda, berkisar antara 365 hari sampai 457 hari. Perbedaan ini dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu bibit sapi, dan manajemen atau teknologi pemeliharaan.

Perbaikan teknologi pemeliharaan berupa perbaikan manajemen kandang, manajemen pakan, manajemen perkawinan dan manajemen kesehatan ternak dapat meningkatkan kinerja reproduksi sapi bali induk. Hal ini terlihat dari penurunan angka service per conception dari 2,50 kali menjadi 1,58 kali, dan memperpendek jarak beranak dari 16,38 bulan menjadi 13,25 bulan. Perbaikan teknologi pemeliharaan juga mampu memperbaiki skor kondisi tubuh sapi bali induk dari 1,75 menjadi 2,92 (dalam skala 1-5). (Adrial dan Mokhtar MS). Beberapa penelitian calving interval pada sapi bali di beberapa daerah dapat dilihat pada Tabel 1. Sebagai berikut:

Tabel 1. Calving interval sapi bali di beberapa daerah

Dari pengamatan di lapangan, calving interval dari 81 ekor induk sapi bali yang dikawinkan dengan kawin suntik /Inseminasi Buatan (IB)  oleh Inseminator di Kabupaten Karangasem, diperoleh hasil seperti dalam Tabel 2, sebagai berikut:

Tabel 2. Calving interval dari induk sapi bali di Karangasem

Berdasarkan data pada Tabel 2, sebanyak 70% induk sapi bali menunjukkan calving interval yang baik yaitu 12-14 bulan. Namun ada 15% yang calving interval yang lebih dari 14 bulan. Hal ini pada umumnya disebabkan karena kurang tepatnya waktu pelaksanaan IB, akibat dari  berahi tidak teramati dengan baik oleh peternak sehingga pelaksanaan IB terlewatkan dan menunggu waktu berahi selanjutnya. Calving interval yang baik dapat dicapai dengan perbaikan manajemen pemeliharaan terutama manajemen pakan, kesehatan hewan dan manajemen reproduksi termasuk pengenalan berahi dengan baik pada induk sapi.

Daftar pustaka

  1. D. A. P. Sari, Muladno, & S. Said. 2020. Potensi dan Performa Reproduksi Indukan Sapi Bali dalam Mendukung Usaha Pembiakan di Stasiun Lapang Sekolah Peternakan Rakyat.  Jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil Peternakan Vol. 08 No. 2 Juni 2020, Hlm: 80-85  https://journal.ipb.ac.id/index.php/ipthp/index