Denpasar – Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, melakukan kunjungan kerja studi tiru ke Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangka studi tiru terkait pemanfaatan aplikasi pupuk hayati cair yang inovatif dan adaptif untuk berbagai komoditas pertanian.
Kunjungan ini bertujuan untuk menggali praktik terbaik dalam pengembangan pupuk hayati cair yang telah terbukti mampu meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya pada lahan dengan keterbatasan unsur hara maupun lahan kritis.
Dalam kegiatan tersebut, rombongan memperoleh pemaparan teknis mengenai formulasi, metode aplikasi, serta dampak penggunaan pupuk hayati cair terhadap pertumbuhan tanaman. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk hayati cair memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan produksi dan kualitas hasil pertanian, bahkan pada kondisi lahan marginal.
I Wayan Sunada menyampaikan bahwa inovasi ini menjadi solusi strategis dalam menjawab tantangan sektor pertanian di Bali, khususnya pada wilayah dengan keterbatasan sumber air dan tingkat kesuburan tanah yang rendah.
“Dari hasil studi tiru ini, kami melihat secara langsung bahwa pupuk hayati cair mampu memperbaiki struktur dan kesuburan tanah, sehingga berdampak nyata terhadap peningkatan produktivitas. Ini menjadi salah satu solusi yang sangat potensial untuk dikembangkan di Bali,” ujarnya.
Ia menambahkan, secara teknis pupuk hayati cair bekerja melalui aktivitas mikroorganisme yang mampu meningkatkan ketersediaan unsur hara esensial di dalam tanah.
“Secara teknis, pupuk hayati cair mengandung mikroba fungsional seperti bakteri pelarut fosfat dan penambat nitrogen yang berperan dalam meningkatkan ketersediaan unsur hara makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). Selain itu, mikroorganisme tersebut juga mampu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, sehingga lahan yang semula kurang subur atau kritis dapat kembali produktif,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa hasil kunjungan kerja ini diharapkan dapat diadopsi dan direplikasi oleh kabupaten/kota di Provinsi Bali, terutama pada daerah yang memiliki karakteristik lahan sulit ditanami serta keterbatasan air.
“Kami berharap kabupaten/kota dapat segera menindaklanjuti melalui uji coba di lapangan. Terutama pada wilayah yang selama ini menghadapi kendala lahan kering dan minim sumber air, agar ke depan tetap bisa dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan pertanian,” tambahnya.


Implementasi inovasi ini juga diharapkan dapat mendukung upaya peningkatan ketahanan pangan daerah, sekaligus mendorong pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan. Melalui langkah ini, Distanpangan Bali menunjukkan komitmennya dalam mendorong inovasi sektor pertanian guna meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan petani, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya alam.
