Denpasar — Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali terus memperkuat program diversifikasi pangan sebagai langkah strategis dalam meningkatkan ketahanan pangan daerah sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras. Selain komoditas yang telah dikenal luas seperti ketela pohon, ubi jalar, talas dan jagung, pemerintah kini juga mendorong pengembangan komoditas lokal lainnya seperti talas, porang, dan sorgum sebagai sumber karbohidrat alternatif yang bernilai ekonomi tinggi.

Produksi komoditas pangan lokal di Bali menunjukkan tren yang cukup menjanjikan. Ketela pohon (ubi kayu) masih menjadi salah satu andalan dengan persebaran produksi di berbagai kabupaten. Ubi jalar berkembang pesat terutama di wilayah dataran tinggi, sementara jagung tetap menjadi komoditas penting yang dimanfaatkan baik untuk konsumsi langsung maupun bahan baku industri pangan dan pakan.

Di sisi lain, talas mulai banyak dibudidayakan sebagai bahan pangan alternatif yang kaya serat dan memiliki potensi pasar yang terus berkembang. Porang juga menjadi komoditas unggulan baru karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan permintaan ekspor yang meningkat, khususnya sebagai bahan baku tepung glukomanan. Sementara itu, sorgum mulai dilirik sebagai pangan masa depan karena tahan terhadap perubahan iklim serta memiliki kandungan gizi yang baik sebagai sumber karbohidrat non-beras.

Tidak hanya dalam bentuk bahan mentah, berbagai komoditas tersebut telah diolah menjadi produk pangan lokal bernilai tambah. Singkong diolah menjadi keripik, tepung mocaf, dan tiwul. Ubi jalar dimanfaatkan sebagai bahan kue dan jajanan tradisional. Jagung diolah menjadi bubur jagung hingga camilan khas. Talas kini banyak diolah menjadi keripik dan tepung, sedangkan porang dikembangkan menjadi produk turunan seperti mie rendah kalori dan bahan pangan diet. Adapun sorgum mulai diolah menjadi tepung, nasi sorgum, hingga produk pangan modern seperti cookies dan snack sehat.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, menegaskan bahwa diversifikasi pangan menjadi kunci penting dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan di masa depan.

“Bali memiliki potensi besar pada pangan lokal seperti ubi, singkong, talas dan jagung, hingga komoditas baru seperti porang dan sorgum. Jika dimanfaatkan secara optimal, komoditas ini tidak hanya mampu menjadi alternatif sumber karbohidrat selain beras, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi petani serta memperkuat sektor hilirisasi pangan lokal,” ujarnya.

Ia menambahkan, diversifikasi pangan juga sejalan dengan program konsumsi Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) yang terus digencarkan bersama Badan Pangan Nasional. Edukasi kepada masyarakat terus dilakukan agar pola konsumsi tidak bergantung pada satu jenis pangan pokok.

Pemerintah daerah juga mendorong pengembangan hilirisasi produk pangan lokal agar memiliki daya saing di pasar. Berbagai upaya seperti pelatihan pengolahan, fasilitasi perizinan, hingga dukungan pemasaran terus dilakukan untuk memperkuat ekosistem pangan lokal di Bali.

Dengan potensi sumber daya yang melimpah serta dukungan kebijakan yang berkelanjutan, diversifikasi pangan di Bali diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan daerah, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mendorong masyarakat untuk mengonsumsi pangan lokal yang lebih beragam, sehat, dan berkelanjutan.