Oleh :
TIM POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan)
Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan

Gianyar — Serangan hama tikus sawah (Rattus argentiventer) dilaporkan meningkat di sejumlah wilayah Provinsi Bali sepanjang Maret 2026. Hama dari golongan mamalia ini menjadi salah satu Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) utama pada tanaman padi, dengan tingkat serangan didominasi kategori ringan hingga berat.
Berdasarkan laporan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), luas serangan tikus tercatat mengalami peningkatan signifikan. Menyikapi kondisi tersebut, UPTD Balai Perlindungan Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (BPTPHBUN) Provinsi Bali menyalurkan bantuan rodentisida kepada petani di sejumlah kabupaten terdampak.
Data distribusi rodentisida tahun 2026 menunjukkan penyaluran di Bangli sebanyak 16 kilogram, Buleleng 8 kilogram, Gianyar 69 kilogram dan 1.100 batang, Karangasem 143 kilogram, Klungkung 14 kilogram, serta Tabanan 223 kilogram dan 625 batang. Kabupaten Tabanan tercatat sebagai wilayah dengan serangan terluas, dengan total pengajuan bantuan mencapai 198 kilogram dan 625 batang.
Peningkatan serangan tikus diduga dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya lahan sawah yang dibiarkan bera sehingga ditumbuhi gulma, kondisi lingkungan yang belum bersih saat masa tanam, serta belum optimalnya pengendalian oleh petani. Selain itu, penanaman yang tidak serempak akibat keterbatasan alat juga menjadi pemicu berkembangnya populasi tikus.

Upaya pengendalian dilakukan secara terpadu dan serentak untuk menekan penyebaran hama. Hingga Maret 2026, total permohonan bantuan rodentisida yang masuk ke BPTPHBUN mencapai 473 kilogram dan 1.725 batang.
Kepala UPTD BPTPHBUN Provinsi Bali, Winaningsih, menegaskan pentingnya langkah cepat dan terkoordinasi dalam menghadapi serangan hama tikus. “Pengendalian harus dilakukan sejak awal musim tanam dan dilaksanakan secara serentak dalam satu hamparan. Jika tidak, populasi tikus akan terus berkembang dan berpotensi menyebabkan kerugian yang lebih besar bagi petani,” ujarnya.
Ia juga mengimbau agar petani tidak ragu melakukan pengendalian sesuai anjuran. “Kami mendorong petani untuk menerapkan kombinasi teknik pengendalian, baik secara mekanis, kimiawi, maupun hayati. Koordinasi antara petani dan petugas lapangan sangat penting agar penanganan bisa lebih efektif,” tambahnya.
BPTPHBUN merekomendasikan sejumlah langkah pengendalian, antara lain pembersihan lahan sebelum tanam, penutupan lubang aktif tikus, gropyokan dan pengemposan sarang menggunakan belerang, serta pemanfaatan umpan alami (BIOYOSO). Penanaman padi secara serempak juga dinilai penting untuk memutus siklus perkembangan hama.
Selain itu, Gerakan Pengendalian (Gerdal) hama tikus terus digencarkan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, POPT, dan kelompok tani. Petugas di lapangan juga diminta aktif melakukan pengamatan dan segera melaporkan gejala awal serangan.
Langkah ini diharapkan mampu menekan populasi tikus secara signifikan sehingga produksi padi tetap terjaga dan ketahanan pangan di Provinsi Bali dapat dipertahankan.