Pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menjawab tantangan keterbatasan lahan serta tingginya biaya budidaya hidroponik, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali menghadirkan inovasi “SHEMO dan ASRI BERMAIN DI HALAMANKU” (Sehat, Hemat, Modern, dan Asri Bersama Maju Inovatif di Halamanku).

Inovasi ini mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah melalui budidaya hidroponik dengan menggunakan formula nutrisi alternatif sebagai pengganti nutrisi AB Mix sintetis. Dengan pendekatan yang lebih sederhana, mudah diterapkan, dan ekonomis, masyarakat dapat menghasilkan sayuran sehat secara mandiri tanpa harus bergantung pada nutrisi hidroponik yang relatif mahal.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dr. I Wayan Sunada, S.P., M.Agb., menyampaikan bahwa inovasi ini merupakan salah satu upaya kita dalam mendorong masyarakat agar semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
“Melalui inovasi SHEMO dan ASRI BERMAIN DI HALAMANKU, kami ingin mengajak masyarakat memanfaatkan setiap jengkal pekarangan sebagai sumber pangan yang produktif. Kemandirian pangan dimulai dari rumah, sehingga keluarga tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sayuran sehat secara mandiri, tetapi juga berpeluang memperoleh tambahan pendapatan dari hasil panennya,” ujarnya.
Lebih lanjut, I Wayan Sunada menambahkan bahwa inovasi ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi pangan, tetapi juga mengedepankan prinsip efisiensi dan keberlanjutan.
“Kami mengembangkan teknologi yang mudah diterapkan oleh masyarakat dengan biaya yang lebih terjangkau. Selain mengurangi ketergantungan terhadap nutrisi sintetis, inovasi ini juga mendorong pemanfaatan bahan-bahan organik yang tersedia di lingkungan sekitar sehingga lebih ramah lingkungan dan mendukung pertanian berkelanjutan,” jelasnya.


Melalui inovasi ini, masyarakat diberikan dua pilihan formulasi nutrisi. Pertama, nutrisi anorganik mandiri yang diracik dari bahan-bahan seperti NPK, KCl, dan Gandasil. Kedua, nutrisi organik mandiri yang memanfaatkan bahan-bahan di sekitar, seperti kotoran ternak, dedak, dan jerami yang diolah menjadi nutrisi tanaman. Kedua metode tersebut memberikan alternatif yang lebih hemat biaya tanpa mengurangi produktivitas tanaman.
Selain menghasilkan sayuran segar, sehat, dan aman dikonsumsi, inovasi ini juga memberikan berbagai manfaat lainnya. Dari sisi ekonomi, penggunaan nutrisi alternatif mampu menekan biaya produksi sehingga budidaya hidroponik menjadi lebih efisien. Bahkan, hasil panen tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga berpotensi menjadi sumber tambahan pendapatan apabila dipasarkan.
Dari aspek lingkungan, pemanfaatan limbah organik sebagai bahan baku nutrisi menjadi bentuk penerapan pertanian ramah lingkungan. Pendekatan ini membantu mengurangi limbah sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan. Sementara itu, penggunaan sistem hidroponik modern juga membuat proses budidaya menjadi lebih praktis, bersih, dan hemat tenaga.
Melalui inovasi SHEMO dan ASRI BERMAIN DI HALAMANKU, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak memanfaatkan pekarangan rumah sebagai ruang produktif. Langkah sederhana ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan keluarga, menciptakan lingkungan yang hijau dan asri, serta membuka peluang peningkatan ekonomi rumah tangga.
Mewujudkan ketahanan pangan tidak selalu membutuhkan lahan yang luas. Berawal dari pekarangan rumah, setiap keluarga dapat menjadi bagian dari gerakan menciptakan pangan yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan bagi Bali.

Buku Panduan Teknis SHEMO dan ASRI BERMAIN DI HALAMANKU bisa di Download disini: